Rabu, 24 Maret 2021

Teka-teki Suksesi


 

    Try Sutrisno ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam.


    Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang, jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya.” Dan tokoh Singapura itu pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat:


    “Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?” Goh menjawab tangkas, “Ya itu saya sendiri.”


    Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”.


    Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.


    “Pak Harmoko,’’ kata Try, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?”


    Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar ke luar ruangan, dimana menunggu Subrata. “Coba, Mas Brata,” katanya kepada bawahannya ini. “Misalkan orang tua situ punya anak tiga. Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan bukan pula adiknya situ?”


    Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: “Itu saya, Pak.”


    Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung maju. “Jadi tadi petunjuknya ...eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?”.


    Try dengan sabar mengulangi, “Orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?”


    Harmoko kali ini menjawab tangkas: “Ya, Subrata, Pak!”.


    Try ketawa geli. “Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya, Goh Chok Tong, dong!”


Soeharto.org digagas untuk merawat ingatan dan menolak lupa terhadap kebiadaban Orde Baru.